Perbandingan Pertumbuhan Dan Kualitas Rumput Laut (Kappaphycus striatum) Dengan Penerapan Metode Budidaya Keramba POD Dan Metode Longline Di Desa Huilelot Pulau Semau Nusa Tenggara Timur

Indriyani Kaolang Sindrang, Yuliana Salosso, Welem Linggi Turupadang

Abstrak


Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pertumbuhan dan kualitas rumput laut Kappaphycus striatum yang dibudidayakan menggunakan dua metode berbeda, yaitu keramba Portable Offshore Device (POD) dan longline, di perairan Batuhopon, Desa Huilelot, Pulau Semau, Kabupaten Kupang. Perbedaan metode budidaya diduga berpengaruh terhadap laju pertumbuhan biomassa, insidensi penyakit ice–ice, serta kondisi kualitas lingkungan selama pemeliharaan. Penelitian dilaksanakan selama 45 hari menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 30 titik sampel, masing-masing metode terdiri atas 15 titik dengan berat bibit awal 100 gram. Parameter yang diamati meliputi laju pertumbuhan rata-rata, laju pertumbuhan spesifik (SGR), pertumbuhan berat mutlak, insidensi penyakit ice–ice, serta kualitas air (suhu, salinitas, pH, kedalaman, kecerahan, dan kecepatan arus). Analisis data dilakukan menggunakan uji t independen untuk mengetahui perbedaan signifikan antar perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode longline memberikan pertumbuhan biomassa yang lebih tinggi secara signifikan dibandingkan keramba POD. Nilai pertumbuhan rata-rata harian dan pertumbuhan mutlak pada longline meningkat konsisten hingga akhir pengamatan, sedangkan pada metode POD mengalami penurunan tajam mulai minggu ke-5. SGR pada longline juga lebih tinggi dan stabil, sementara metode POD menunjukkan penurunan hingga bernilai negatif pada minggu akhir. Selain itu, insidensi penyakit ice–ice pada metode POD jauh lebih tinggi dibandingkan longline, terutama pada minggu ke-6. Kondisi ini terkait dengan sirkulasi air yang kurang optimal, shading antar thallus, dan fluktuasi kualitas air yang lebih besar pada keramba POD. Secara keseluruhan, metode longline terbukti lebih efektif untuk budidaya K. striatum karena mampu menghasilkan pertumbuhan yang optimal, menekan risiko penyakit, serta memberikan kondisi lingkungan yang lebih mendukung. Temuan ini dapat menjadi acuan dalam pengembangan budidaya rumput laut yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Kata kunci : K. striatum, keramba POD dan longline, pertumbuhan spesifik (SGR), berat mutlak, insidensi ice–ice, kualitas air.


Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Ask, E. I., & Azanza, R. V. 2002. “Advances in Cultivation Technology of Commercial Eucheumatoid Species: A Review with Suggestions for Future Research.” Botanical Marine, 45(3), 23–30.

Anggadireja, J. T., Zatnika, A., Purwoto, H., & Istini, S. 2008. Rumput Laut. Jakarta: Penebar Swadaya.

Anggadiredja, J. T., Zatnika, A., Purwoto, H., & Istini, S. 2010. Rumput Laut. Jakarta: Penebar Swadaya.

Effendie, M.I. 1979. Metode Biologi Perikanan. Yayasan Dewi Sri. Bogor. 112 hal.

Effendie, M. I. 1997. Biologi Perikanan. Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusatama.

Hitler, M. 2011. Pengaruh Salinitas terhadap Pertumbuhan dan Elastisitas Thallus Rumput Laut. Balai Besar Riset Budidaya Laut dan Penyuluhan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Indriani, H. dan E.Sumiarsih, 1991. Budidaya Pengelolaan dan Pemasaran Rumput Laut. Penebar Swadaya, Jakarta.

Mudeng, J. D., Magdalena, E. F., & Rahman, A. 2015. Kondisi Lingkungan Perairan Pada Lahan Budidaya Rumput Laut Kappaphycus alvarezii di Desa Jayakarsa, Kabupaten Minahasa Utara. e-Journal Budidaya Perairan, 3(1): 172–186.

Radulovich, R., Amir Neori, Diego Valderrama, C.R.K. Reddy, Holly Cronin, John Forster. 2015. Farming of seaweeds. Seaweed Sustainability. Elsevier Inc. DOI: 10.1016/B978-0-12-418697-2.00003-9.

Saraswati, N. L. G. R. A., Yuliu, Rustam, A., Salim, H.L., Aida Heriati, dan Mustikasari, E.2017. Kajian Kualitas Air Untuk Wisata Bahari Di Pesisir Kecamatan Moyo Hilir Dan Kecamatan Lape, Kabupaten Sumbawa. Manajemen Sumberdaya Perairan. Fakultas Kelautan dan Perikanan. Universitas Udayana. Bali.

Standar Nasional Indonesia. 2010. Produksi Bibit Rumput Laut Kotoni (Eucheuma cottonii) Bagian 2: Metode Long-line. Jakarta. Badan Standar Nasional. SNI: 7579. 2. 2010.

Sulistijo. 2002. Rumput Laut (Seaweed). Jakarta: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) – Pusat Penelitian Oseanografi.

Tan, J., Lim, P. E., Phang, S. M., & Hurtado, A. Q. 2013. Phylogenetic analyses of Kappaphycus and Eucheuma (Solieriaceae, Rhodophyta) based on mitochondrial cox1, cox2-3 spacer and plastid rbcL sequences. Journal of Applied Phycology, 25, 935 – 944. Https://doi . org /10.1007/s10811- 012-9914-5.

Tisera, W. 2009. Insidensi Penyakit Ice-Ice pada Budidaya Rumput Laut. Laporan Penelitian Akuakultur Laut.

Trono, G. C., & Largo, D. B. 2005. Seaweed Ecology. In: Fortes, M. D. (Ed.). The Marine Plants of the

Philippines. University of the Philippines Press.




DOI: http://dx.doi.org/10.35726/jvip.v6i2.7561

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.


Editorial Office:

Program Studi Teknologi Budidaya Perikanan, Politeknik Pertanian Negeri Kupang. Jalan Prof. Herman Yohanes Lasiana Kupang PO Box 1152 Kupang 85011

Creative Commons License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.